Loading...

Jumat, 15 Oktober 2010

TOPENG-TOPENG


oedien.blogdetik.com
Sumber Foto : oedien.blogdetik.com
Ada beberapa penggalan kalimat lakon Dalam Topeng-topeng karya Rachman Sabur yang dimainkan kelompok teater Kupu-Kupu Perak asal Bandung, "Wajah Kita adalah topeng-topeng". Segala wajah, semua bertopeng. Topengku dan topengmu saling menerjemahkan isyarat. Ayo! Siapa diantara kita yang berani meninggalkan topeng? Jangan pernah percaya pada wajah dibalik topeng. Ia bisa menjelma siapa saja dan menjadi apa saja. Realitas drama teater politik dinegeri ini selalu dibalut dengan "topeng-topeng" muncul silih berganti dengan segala pernik yang menyertainya. Ada politisi mempertontonkan ke-tidak populisannya tentang konsep fundamentalisme keadilan, persamaan dan hakikat kemanusiaan. Ada juga politisi melakukan sewenang-wenang (on his own right), diman rakyat dibekukan ruang kebebasan hingga mengalami gradasi dalam berbangsa dan bernegara. Dinegeri ini topeng para politisi telah terjangkiti paralisis (kelumpuhan akal dan moral).
Banyak politisi mirip dengan apa yang diperankan oleh sosok Waska tetang manusia yang penuh keboborokan namun ingin terlihat sebaliknya penyayang, santun, arif dan bijaksana. Para politisi berlomba-lomba mengenakan topeng Semar, hingga seorang seolah-olah sosoknya terlihat bak seorang pelindung yang dimahkotai kepedulian (ke-empati-an) pada setiap orang. hanya saja, ia menjadi berbeda ketika ditengah orang banyak dan ketika ia disaat sendiri. Saat sendiri, dia menjadi sosok Waska sesungguhnya. Sosok Waska yang selalu melangkah membuat rakyat terjepit hidupnya. Sosok Waska yang isyarat-isyarat atau perintah-perintahnya selalu siap dikerjakan oleh siapapun. Hanya cuma satu-satunya tidak setia kepada sosok diri Waska adalah alam itu sendiri, tempat ia hidup dan berpijak. Politisi dimanapun berada selalu memiliki kecenderungan untuk bersikap dan bertindak dalam bingkai moralitas palsu. Berbagai fenomena kehidupan nyata menunjukkan mengenai sikap seorang manusia yang tak pernah netral secara moral. Kerapkali orang akan bertindak dan berlaku secara berbeda dengan yang diucapkannya. Bahkan, pada saat yang sama-pun orang selalu mengatakan tentang perlunya keadilan, kebenaran, persamaan dan kebenaran. Hal ini berbeda dengan sikap orang yang bijak dan para pahlawan yang mengatakannya demi kejujuran dan kebenaran. Sementara para politisi mengatakan hal itu secara hipokrit demi kepentingan sendiri. Dalam hal ini, kampanye para politisi yang selama berabab-abab selalu berbicara tentang keadilan, persamaan, dan kemanusiaan selalu diwujudkan dalam topeng-topeng moral yang sesungguhnya sarat dengan kepalsuan.
Bangsa kita adalah bangsa yang munafik, tegas KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dalam sebuah seminar Pemilihan Presiden secara langsung beberapa tahun lalu, ketika menanggapi perilaku politisi kita. begitu pula, Oom Pasikom malahan mengatakan sekarang dinegeri ini apa sih yang tidak palsu : sumpah palsu, janji palsu, gelar palsu, vonis palsu, gigi palsu.....(Kompas, 27 mei 2000). Bukankah ini sama dengan topeng segala topeng? Bilamana kita berbicara terminologi munafik pada mulanya berkonotasi religius, yaitu orang berpura-pura percaya pada agama padahal sesungguhnya dia tidak percaya, dan saat ini menjadi bermakna luas. Munafik adalah orang yang tidak satu dalam kata dan perbuatan. Dan kemunafikan berarti sikap lain dikata lain di hati, lain anjuran lain tindakan. Kemunafikan juga berarti ketidakjujuran karena kepura-puraan sikap dan perbuatan (JS Badudu dan Moh Zain, Kamus Umum Bahsa Indonesia, 1994).
Seperti halnya tentang Kepalsuan adalah merupakan salah satu ciri kemunafikan juga. Ibarat hantu, kepalsuan dan kemunafikan ada dimana-mana dan sulit diindera. Sang politikus yang berjanji membawa aspirasi rakyat tetapi kenyataan menindas rakyat (KKN) berarti sumpahnya palsu. Dan sang ekonom yang katanya membela kesejahateraan masyarakat tetapi buktinya memperkaya diri dan golongannya-pun berjanji palsu. Serta sang penguasa yang ngebodohin publik lewat iklan yang tidak sesuai dengan kenyataannya juga berbisnis secara palsu. Semua menjadi "Disclamer" istilah asing diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh para pakar keuangan, yang artinya rancu.
Merosot
Dalam serat Sabdatama karya pujangga Ronggo Warsito, puncak zaman yang penuh penderitaan ini semakin ditandai dengan terjadinya kemerosotan kesadaran sehingga kian memperburuk keadaan, sehingga kian memperburuk keadaan. Padahal kata kunci pemahaman kesadaran, seperti kata ungkapan Inggris : Yakni tugas dalam pengertian jamak (plural) maknanya adalah large than life, artinya lebih jauh dan lebih luas dari kehidupan orang seorang. apalagi bahsa kesadaran kita tentang kekuasaan tak pernah terkait dengan kehendak mewujudkan keadilan.
Tak ada yang bicara, berkuasa berarti pelayanan. ebaliknya, berkuasa berarti minta pelayanan, minta diagungkan. Kekuasaan dianggap tahta suci tak tersentuh. Sementara kemerosotan kesadaran intelektual terlihat banyak, para ahli berlomba-lomba mengemukakan pendapat-pendapat itu justeru membuat keadaan hidup semakin sulit.
Panggung politik di Indonesia dipenuhi drama cerita kutil-mengutil terjadi secara kontinyuitas (episode-per-episode). Lebih anehnya perilaku KKN mendapat perlindungan hingga mengundang libido para pelaku kejahatan kelas super kakap yang memperoleh tindak kejahatan berefek sangat luas digedung-gedung mewah serba tertutup atau dikantor pemerintahan serba eksklusif. Anehnya, mereka tanpa bisa disentuh hukum sudah kehabisan energi untuk menegakkan keadilan. Hingga hukum tak lebih hanya mengusut bayang-bayang si-pelaku-KKN. Amat logis bila perilaku itu akan terus berkembang, serta KKN akan terus-menerus diadopsi menjadi sebagai cara hidup (life style). Hidup seakan-akan tidak terasa indah tanpa di mahkotai dengan perhiasan KKN (Korupsi, Nepotisme dan Kolusi).
Duit adalah nervus rerum (urat saraf segala hal), orang Yunani menyebutnya. makin banyak duit makin banyak keinginan bisa dicapai. tak heran para politisi menjadi penjilat dan bersedia menjual diri kepada kekuasaan tanpa moral. Para politisi memperjuabelikan kepecayaan. hedonisme merajalela, budaya malu menghilang dari tanah air, semua menjadi muka tembok. Oleh karena itu, tak berlebihan jika penyair Taufiq Isamail menjuluki kumpulan seratus puisinya. Malu (Aku) jadi Orang Indonesia. Gugatan sang penyair terhadap keboborokan akhlak yang lebih luas dari sekadar kekuasaan politik. Makin hari paradoks kehidupan makin tidak asing bagi kita yang hanya bisa menelan ludah, tatkala menatap sebagian anggota masyarakat lain kehidupannya bagai pelangi dan menjadi titian bidadari dilangit biru. Sayangnya hanya sebatas dipandang dan tidak mudah dimiliki masyarakat pada umumnya. batas pengertian tentang pola hidup yang wajar, masih sulit untuk menemukan benang yang wajar, masih sulit menemukan benang merahnya. hanya saja bahwa dialam kesadaran masyarakat (social unconsciousness) ada semacam kekecewaan atau keprihatinan yang berkepanjangan dalam mengimplementasikan makna hidup bermasyarakat seoalh-olah menjadi kebisuan antara kelompok masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya.
      Doel Sumbang - Bapak Pencuri



Tag: topeng-topeng

Sebarkan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar